Search This Blog

Loading...

Monday, September 15, 2014

Many Happy Returns!

Many happy returns!!

This writing is dedicated for you, Risa. Through this, I’m gonna answer your question.

Pertanyaanmu, “Did you feel hurt when I took her from you a year ago? Were you hurt or sad?”

Dan ketika tadi I seemed reluctant to answer it, itu bukan karna aku merasa terluka dan gak mau jujur, itu hanya aku tidak bisa mengatakan jawabanku. Aku tau, kalo aku jawab I’d broke into tears, and with you already cried and felt blue, kita akan berlomba siapa yang mengeluarkan air mata paling banyak. Haha

To be honest, I didn’t know what I felt about it, and I still don’t know. Aku sedih, tentu saja. Aku bukan orang yang gampang dekat dan percaya sama orang lain, jadi ketika aku akhirnya bisa dekat dan percaya orang, dimana aku bisa nyaman menjadi diriku, aku berharap orang itu akan stay. Dan ketika kamu datang, ‘mengambil’ dia, aku sedih karna aku kehilangan orang dimana aku bisa menjadi nyaman.

Di sisi yang lain, I felt relieved. Aku tau aku akan selalu menjadi Zelin yang seperti ini. I’m selfish, cold, emotionally detached, introvert. Aku mempunya inner circle yang aku buat khusus untuk diriku, dimana kalian boleh mengintip, tapi tidak boleh merusak integrasinya. Aku tau aku orang yang sangat private, dan kamu tau dia orang yang ekstravert. Aku saat itu tau akan ada suatu saat dimana aku akan mencapai titik jenuhku akan hubungan antar manusia, aku akan menutup diriku and push people away, just like I always did. There were only two outcomes, either she walked away on her own, atau aku yang akan mencari-cari alasan agar dia pergi. I would never leave though, she didn’t do anything wrong.

So, ketika kamu datang, part of me felt relieved. Aku tau aku bukan sahabat yang bisa memberikan dukungan emosional. I’m more of a problem solver than a nurturer. Aku merasa terlepas dari beban akan kewajiban seorang sahabat. Inget ga ketika kalian dan aku berjauhan, ketika kita seperti orang asing satu sama lain? Itu bukan karna aku ga nyaman atau marah sama kalian, aku cuma ga mau merusak hubungan kalian berdua. That’s all. 

But I could assure you, that I wasn’t mad. I know I had no right to be mad. She wasn’t mine in the first place, she was my closest friend, that’s all. Dan aku menganut cinta yang liberal. Aku percaya kalo kamu sayang sama seseorang, kamu akan melepasnya bukan mengekangnya. And she had every right to do whatever she wanted. And I knew that you needed her. Aku tau bagaimana rasanya merasa sangat depresi dan sangat membutuhkan seseorang, paling tidak hanya untuk meyakinkanmu bahwa dunia masih berjalan, bahwa kamu masih dianggap ada and everything’s gonna be fine eventually. Aku tau bagaimana rasanya mengalami krisis internal dimana kamu menganggap dunia ini tidak adil, merasa kamu sendiri dan seluruh dunia melawanmu. Aku tau bagaimana rasanya di misjudge oleh orang, dianggap aneh dan bagaimana kamu merasa marah akan hal itu tapi kamu ga tau bagaimana caranya untuk memperbaikinya. Dan percayalah aku melalui semua hal itu sendiri, it wasn’t a pleasant experience, and I don’t think I could let anyone feel the same way as I did. So, I wasn’t mad.

Percayalah aku pernah mengalami fase yang kamu hadapi sekarang. Feeling unhappy, dan marah pada tuhan. Merasa tuhan tidak adil karena telah membuat kamu berada disituasi yang kamu rasa tidak sanggup kamu atasi. Tapi kemudian aku sadar, Tuhan bukan seperti manusia. Dia melakukan suatu hal pasti ada alasannya, walaupun kamu belum melihatnya. If you cant find a reason, then make one. So, now everytime something unpleasant happens, I try to see the positive sides. Aku mencoba mensyukurinya dan mencari jalan keluarnya. Aku sekarang sudah lebih bisa menerima keluargaku dan diriku, although part of me, masih bertanya-tanya apa yang terjadi padaku jika aku lahir dikeluarga yang berbeda? Apakah aku masih akan menjadi Zelin yang sama?

And you deserve to be happy. Bahagialah pada setiap hal kecil  dihidupmu. I know it sounds na├»ve, but make your own happiness. Find it. Don’t let anyone or anything ruin your happiness. And, you will find someone who will accept you for who you are, who will want you only, who will not take you for granted. No, we will! :D So forget him, I know you are still thinking about him.

And last, thank you for saying that I’m sweet, haha. It’s disgusting enough to be called nice, now people say that I’m lovely and sweet. It’s new to me, but I’m gonna try to change, not to everyone though, just for people close to me. Ok, I know you don’t agree, but I appreciate people who try know me. I want to make them feel special, so they wont regret knowing me. I’ll make sure that I’m worth their lives.

Once again, many happy returns!!

And let's agree not to discuss it anymore, ok? I mean, the past part between us. 

Thursday, September 11, 2014

Observation : Intention

So, it's been a month or less i havent been writing anything on here. Reason? My laptop sucks. I cant type a full paragraph without running out of my patience because the keyboard just doesnt function properly. Yeah, I know I shouldn't have played games on here.

Ok, so because today I'm in one of my bad mood period (maybe because of PMS? God knows how much chocolate I ate today, or because of the exam coming soon, or it's because I get lack of sleep lately, or it's because of some unwanted small events happening since morning came, or it's because.. ok, i'm running out of causes. But for some reasons I'm not in my best self today. Don't worry, I wont kill anyone), and I get bored of studying, so I decided to write something on here.

So, a few months ago I've questioned my self about people deeds and their intentions, whether we can do something nice without any reason behind that attitude. And after observing people for sometime, questioning them (not directly of course, a little bit deceiving here and there) and analyzing the informations, finally I got my answer. The answer is no.

Let me explain this as clear and as short as I can.

We, humans, always need reasons to do something. Different person has different reason. And if we dont find any satisfying or useful reason, we're not gonna do that. For instance, eating. We eat because if we dont we're gonna die. Would we still eat if without eating we were not gonna die? (of course it's impossible, it'd ruin the point of living). I'm sure we wouldnt. Another example, buying a coat. We live at a place where there is no extreme weather, no winter, no zero degrees. So, we dont buy a coat because we dont need them. But, what if suddenly Indonesia got winter, or the temperature dropped down, what were we going to do? I'm sure all of us would race to the fashion stores to buy coats.

Well, just like I explain above, people need reasons, and the reasons become intentions and the intentions what drive us to do something. And according to that, I classify humans intentions to two categories :

1. The hypocrite or human intention. (Obvious)
Or as I call it, the people intention. It's the intention that we tell people about the reasons we do something. The reasons that, how I say this, we find humanity. The reasons that we serve for people. For example, we help someone because that person needs our help. Or, we help someone because if we dont, that person will be in trouble. Or, we help because that person is in poor situation. Or we help because that person deserves our help. But, remember, this kind of intention is always dishonest. 

2. The honest or private intention. (Hidden)
Or as I say it, private intention, the real intentions that we usually dont tell people. This intention brings reasons to your benefit. Either this reasons are right or wrong (of course, it's rethorical, there is no right or wrong if we talk about people or life. There is only grey), allowed or not, these reasons are selfish, egoistic, self-sufficiency. For instance, we help people because we want to feel better about ourselves, or we help because if we dont we're gonna feel guilty for not helping them. Or we help because we want people say that we are a nice person. Or we help because we want to avoid bad karma. We help because we hope God will give us good things in turn. Or the extreme reason, we help because we want to achieve something or get something from that person. Whatever the reason is, this is the true reason.

This is how it works. Every hypocrite reason always has the hidden reason. But every hidden reason doesnt have to have the obvious. Some people feel they need to tell the obvious reasons. Other people are not so concern about what people think about themselves, so they dont make up the obvious reason.

You may say that what I say is cynical, negative, but this is what I got from observation of people. I find it rare and unusual to find naive intention, helping other people just because they want or they can. If you dont agree, feel free to discuss it with me :) 

Monday, August 25, 2014

Dilema Cinta


I need a break from watching Game of Thrones.



Kalian pasti sudah sering mendengar sebuah frasa “Don’t judge the book by the cover” oleh seorang sastrawan Inggris, William Shakespeare, yang memiliki makna ‘Jangan melihat sesuatu dari luarnya saja, karna luar itu bisa menipumu.’ Tapi bukan berarti penampilan itu tidak penting atau kamu sama sekali tidak melihat penampilan itu. Covers are important, either the actual or factual, because humans have eyes, therefore humans is a visual creature. Kalo ga, tidak akan ada ilmu design, kita tidak akan menghabiskan banyak uang untuk membeli pakaian, perusahaan tidak akan menghabiskan banyak waktu dan uang untuk mendisain suatu kover buku, and so on.

Hal ini juga berlaku ketika kita memilih pendamping hidup (atau pacar, partner, call it whatever you like). It’s not wrong to see someone based on their appearance, or deciding if you like or don’t like someone based on their looks. Tapi hal itu menjadi salah ketika kamu memberi penilaian akhir pada seseorang berdasarkan yang ditampilkan diluarnya, ata ketika kamu mengambil keputusan akhir hanya berdasarkan penampilan.

Let me give you an example. Choosing a live partner (or again, a boyfriend or a girlfriend or a spouse) is pretty much like buying clothes.

Andaikan kamu memasuki sebuah toko baju dimana memiliki beberapa peraturan sebagai berikut :
  • Semua model baju hanya memiliki satu stok.
  • Kamu bisa mencoba sebanyak baju yang kamu mau, namun kamu hanya bisa membeli satu baju.
  • Baju yang sudah dicoba tidak boleh dibawa-bawa. Kamu hanya bisa membelinya atau meletakkannya kembali.
  • Baju yang sudah dicoba tidak boleh dicoba kembali.

Kamu melihat-lihat model baju. Kamu ingin mencobanya, namun model baju yang bagaimana yang akan kamu pilih? Tentu saja model baju yang kamu anggap paling bagus dan sesuai seleramu. Selanjutnya kamu mengambil beberapa model baju (ingat, satu model baju hanya memiliki satu stok) dan mencobanya. Setelah mencobanya, kamu akhirnya mendapatkan satu model baju yang menurutmu paling bagus, paling sesuai seleramu dan paling nyaman kamu kenakan, dan akhirnya kamu memutuskan untuk membelinya. Namun, ketika sudah mengembalikan semua model baju yang lain kembali ke raknya, dan kamu mau membayar baju yang kamu pilih, kamu melihat ada benang yang lepas. Pertanyaannya, apakah kamu akan tetap membelinya?


Setelah berfikir ulang, kamu memutuskan untuk tidak membelinya karena merasa baju itu kurang sempurna yang disebabkan oleh benang lepas itu. Akhirnya kamu memutuskan untuk meletakkan baju itu kembali dan melihat-lihat dan mencoba model baju yang lain. Setelah mencoba beberapa, akhirnya, kamu memutuskan mengambil satu baju, lebih bagus namun lebih tidak nyaman dari yang sebelumnya. Ketika kamu memutuskan untuk membelinya, kamu menyadari baju kali ini memiliki bagian yang robek. Karena merasa tidak puas, dan ingin melihat-lihat yang lain, kamu akhirnya memutuskan meletakkannya kembali dan mencari model baju yang lain.

Setelah beberapa saat berkeliling toko dan melihat-lihat model baju yang lain, kamu mendapatkan beberapa model baju dan mencobanya, namun tidak ada yang sebagus dan senyaman model yang pertama. Akhirnya kamu memutuskan untuk membeli model baju pertama yang kamu temukan. Kamu mencari lagi baju itu, namun tidak menemukannya. Karena kamu sangat ingin untuk membeli baju itu, kamu bertanya ke penjaga toko. Penjaga toko memberitahumu bahwa baju itu sudah dibeli. Lalu, kamu bertanya ke penjaga toko apakah mereka memiliki stok lebih, namun penjaga toko mengatakan semua model baju di toko mereka hanya memiliki satu stok. 



Kamu merasa sangat menyesal karena tidak langsung membelinya. Akhirnya setelah menimbang beberapa saat, kamu memutuskan untuk membeli model baju kedua yang kamu temukan. Namun, ketika kamu mau mencari baju itu, kamu melihat baju itu akan dibeli oleh orang lain. Kamu memutuskan menghampiri pembeli itu dan mengatakan bahwa kamu yang pertama menemukan baju itu dan itu adalah milikmu. Namun, orang itu hanya mengatakan, “Jika kamu menyukai baju ini, lalu mengapa kamu meninggalkannya, bukannya membelinya? Itu salahmu, sekarang ini milikku dan aku akan membelinya.”



Kamu merasa sangat terpukul. Karena sudah lelah melihat-lihat dan mencoba, akhirnya kamu memutuskan mengambil model apa saja yang terlihat didepan matamu tanpa mencobanya lalu membelinya. Kamu tidak senang dengan baju ini karena kamu merasa tidak nyaman dan baju ini memiliki lebih banyak bagian yang rusak. Kamu tetap memakainya, namun dihatimu kamu menyesali karena tidak langsung membeli pilihan pertama yang kamu sukai.

The end

Moral of the story?

Sebelumnya, perumpamaan ini tidak terlalu menggambarkan hubungan antara manusia dan manusia lainnya. Di sini, aku menganggap manusia lain (selain dirimu) sebagai objek semata yang tidak memiliki emosi. Namun, mari kita setuju bahwa emosi sulit untuk dikalkulasi dan objektifikasi ini semata untuk menyederhanakan perumpamaan.

Apa yang bisa kita dapatkan dari cerita diatas?
  • Bahwa penampilan itu penting. Kamu, akui atau tidak, pasti melihat ‘penampakan luar’ seseorang sebelum memutuskan untuk mengenali orang itu. Disliking someone because they aren’t good looking doesn’t prove that you are a jerk. It just proves that you are a normal human being. But it is wrong to discrimante that person just because they aren't good looking. Got the difference?
  • Cantik (atau ganteng) nya seseorang itu relatif. Tergantung bagaimana seseorang mendefinisikan keindahan itu. Jangan biarkan orang lain mendefinisikannya untukmu. Jika kamu memutuskan apakah seseorang itu cantik (atau ganteng) berdasarkan penilaian orang lain, itu berarti kamu bukan orang yang memiliki pendirian tetap dan gampang dipengaruhi orang lain.
  • Let’s agree that NO ONE is perfect. Seiring berjalannnya waktu, kamu pasti menemukan kekurangan orang itu. Masalahnya adalah, apakah kamu bisa menerima kekurangan itu, dan mencintai kekurangan itu. Jika kamu mencari orang yang sempurna, tidak memiliki kekurangan, maka kamu akan menghabiskan seluruh hidupmu mencari imajinasi kesempurnaan itu. In the end, jika kamu telah menerima dan mencintai kekurangan seseorang, kekurangan itu akan menjadi suatu kesempurnaan dari orang itu.
  • 'If you like your phone, you should put a ring on it.’ Maksudnya, jika kamu sangat menyukasi seseorang, maka ambil orang itu dan klaim dia milikmu. Terserah apakah itu menikahinya atau membuat komitmen, kamu harus melakukan sesuatu agar orang itu merasa bahwa dia milikmu (bukan berarti kamu bersifat posesif, itu dua hal yang berbeda). Kamu yang akan menyesal nantinya jika orang lain ‘mengambil’ orang yang kamu suka.
  • Jika kamu tidak menyukai orang itu, jangan melecehkannya, atau berpura-pura menyukainya dan menggantung harapan pada orang itu hanya karena perasaan ‘insecure’ mu. Kalo kamu tidak memiliki perasaan, katakan padanya dan tinggalkan. Pergi menjauh, agar orang itu juga bisa mencari dan menemukan orang lain yang menyukainya.
  • Last, kamu bisa berkenalan dengan banyak orang, tapi kamu tidak bisa memilih lebih dari satu orang. Jika kamu melakukannya, berarti kamu hanya manusia egois yang tidak bisa menentukan pilihanmu.
Sekian, terima kasih. Mohon maaf apabila salah kata.